Awas, Inflasi Bisa 8,5 Persen dari Kenaikan Harga Pertalite dan Solar

0
39

Suratkabarnasional.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis pertalite dan solar diperkirakan bakal naik, seiring dengan bengkaknya anggaran subsidi energi menjadi Rp502 triliun dari proyeki awal Rp170 triliun.

Kuota pertalite dan solar pun kian menipis. Data PT Pertamina (Persero) menunjukkan penyaluran pertalite mencapai 16,8 juta kiloliter (kl) hingga Juli 2022. Artinya, kuota hingga akhir tahun hanya tersisa 6,25 juta kl dari total kuota yang ditetapkan tahun ini sebanyak 23,05 juta kl.

Sementara, penyaluran solar mencapai 9,9 juta kl hingga Juli 2022. Sehingga, sisa kuota solar hingga akhir tahun hanya tersisa 5,2 juta kl dari total kuota 15,1 kl. Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyebut Presiden Jokowi kemungkinan mengumumkan kenaikan harga BBM pertalite dan solar pekan ini. “Jadi presiden sudah mengindikasikan, tidak mungkin kita pertahankan (harga BBM subsidi) demikian, karena harga BBM kita termurah dan itu beban untuk APBN,” katanya dalam kuliah umum di Universitas Hasanuddin, Jumat (18/7) lalu.

Jokowi merespons wacana kebijakan terkait BBM subsidi harus diputuskan secara hati-hati. Pasalnya, kenaikan harga komoditas tersebut akan berpengaruh terhadap masyarakat. Kepala negara tidak ingin kenaikan harga pertalite dan solar berdampak pada penurunan daya beli, lonjakan inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi.

“Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Jadi semua harus diputuskan dengan hati-hati dihitung dampaknya jangan sampai menurunkan daya beli, konsumsi rumah tangga, menaikkan inflasi yang bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi. Semuanya saya suruh hitung betul sebelum diputuskan,” tutur Jokowi di Taman Mini Indonesia Indah.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebut kalau pemerintah menaikkan harga BBM pertalite dan solar, tentu inflasi bakal naik. Sebab, kenaikan harga BBM bisa berimbas pada kenaikan harga komoditas lainnya.

Apalagi, inflasi hingga Juli 2022 sudah mencapai 4,94 persen yang menunjukkan pertumbuhan yang relatif signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Secara tahunan, inflasi yang melebihi 4 persen itu sudah melewati batas atas dari target inflasi pemerintah di sepanjang tahun ini.

Tak main-main, Yusuf menuturkan jika harga pertalite diasumsikan naik dari Rp7.650 menjadi Rp10 ribu per liter, inflasi bisa melonjak hampir dua kali lipat di akhir 2022, yakni 8 persen. “Inflasi bisa mencapai di atas 5 persen. Bahkan, bukan tidak mungkin inflasi justru bisa mencapai 6 persen sampai dengan 8 persen di sepanjang tahun,” paparnya pada Selasa (23/8).

Yusuf juga menuturkan kenaikan harga pertalite dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional jika tidak dibarengi dengan pemberian kompensasi untuk masyarakat menengah ke bawah. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah perlu memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada kelompok masyarakat yang berpotensi terdampak dengan kebijakan kenaikan harga pertalite.

“Artinya, ketika pertalite ini dinaikkan, kelompok ini terutama mereka yang hidup di sekitar garis kemiskinan namun belum berkategori sebagai penurun miskin adalah kelompok yang perlu diperhatikan oleh pemerintah,” papar Yusuf.

Adapun terkait ancaman hiperinflasi yang disebut oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo, menurut Yusuf hal itu tidak akan terjadi. Sebab, secara umum pengertian hiperinflasi adalah inflasi yang pertumbuhannya terjadi sangat signifikan bahkan dalam beberapa kasus itu berada di atas 50 persen.

“Dengan menggunakan definisi ini tentu kondisi Indonesia tidak, ataupun belum akan separah itu. Pasalnya, inflasi kita dengan memasukkan unsur kenaikan harga BBM saya pikir masih akan berada di bawah angka 10 persen,” terang Yusuf.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan inflasi hingga akhir tahun bisa menyentuh level 7 hingga 8,5 persen di akhir tahun ini jika harga pertalite naik menjadi Rp10 per liter. Namun, ia lebih meyakini inflasi hanya berada di level 7 persen karena Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan tingkat suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate/BI 7DRR) menjadi sebesar 3,75 persen.

Begitu pula dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility masing-masing menjadi 3 persen dan 4,5 persen. “Harapan kita kenaikan tersebut bisa meredam kenaikan inflasi walaupun akan tetap naik jika harga pertalite dinaikkan. Minimal, jika pun dinaikkan inflasi hanya di angka 7 persen, bahkan kurang,” kata Nailul.

Sependapat dengan Yusuf, Nailul mengungkapkan Indonesia masih jauh dari bayang-bayang hiperinflasi. Inflasi diyakini tidak akan tiba-tiba melonjak secara signifikan dalam waktu yang singkat. Ia pun menekankan hiperinflasi kemungkinan bisa terjadi jika harga pertalite diasumsikan naik menjadi Rp17 ribu per liter. “Kecuali pertalite harganya naik sampai Rp17 ribu,” kata Nailul.

Lebih lanjut, BI sendiri memperkirakan inflasi Indonesia tembus 4,6 persen di akhir 2022. Proyeksi terbaru ini lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya 4,2 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan proyeksi terbaru ini sejalan dengan kenaikan harga komoditas yang terus berlanjut.

“Kami perkirakan inflasi akhir tahun lebih tinggi dari 4,2 persen, bisa mencapai 4,5-4,6 persen,” jelasnya. Selain pangan, inflasi dalam negeri juga didorong oleh kenaikan harga diatur pemerintah, seperti BBM dan listrik yang tidak disubsidi.