Menjaga jarak kehamilan penting dilakukan untuk melindungi kesehatan ibu dan bayi. Tanpa jeda yang cukup, risiko komplikasi seperti perdarahan, robekan bekas operasi caesar, hingga kelahiran prematur dapat meningkat. Setelah melahirkan, tubuh ibu membutuhkan waktu untuk pulih. Pada periode ini, rahim, energi, dan hormon belum sepenuhnya stabil. Kehamilan terlalu cepat dapat membebani fisik dan mental.
“Sebenarnya caesar ataupun lahir normal, menjaga jarak persalinan itu penting. Penting itu untuk apa? Recovery (pemulihan) dulu dong. Jika tidak, itu bisa membawa stres pada ibu. Stres fisik juga, stres mental juga.”
Hal itu diungkap dr. Amarylis Febrina Choirin Nisa Fathoni, SpOG., IBCLC., dalam acara Sahabat Peduli Journalist Club Edisi 2 dari Pfizer Indonesia, di Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025).
Lebih lanjut dr. Nisa menyebut, selama kehamilan, tubuh ibu mengalami perubahan besar, seperti peningkatan volume darah, pelebaran pembuluh darah, perubahan hormon, hingga proses persalinan yang menguras energi.
Setelah melahirkan, tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi tersebut, baik secara fisik maupun emosional. “Kalau jarak ideal, dua tahun,” kata dr. Nisa. Jarak dua tahun memberi kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan jaringan, mengisi kembali cadangan nutrisi, dan menstabilkan hormon. Selain itu, jarak yang cukup dapat membantu mengurangi tekanan mental yang muncul saat mengasuh anak pertama.
Kehamilan yang terjadi terlalu cepat setelah persalinan sebelumnya dapat meningkatkan berbagai risiko medis, terutama pada ibu yang pernah menjalani operasi caesar. Pada kondisi ini, jaringan rahim, khususnya di bagian bekas sayatan, belum sepenuhnya pulih sehingga lebih rentan mengalami komplikasi. “Kalau misalkan dia sudah pernah riwayat caesar, terus nanti dia di bawah dua tahun, berarti kan segmen bawah rahimnya masih tipis juga. Pemulihannya pun belum semuanya recovered,” jelas dr. Nisa.
Ketika jarak persalinan terlalu pendek, ibu berisiko mengalami robekan pada bekas jahitan caesar, perdarahan hebat, serta kelahiran prematur. “Tentunya kita takut kalau dia nanti sampai terjadi robekan dari jahitan yang sebelumnya. Atau mungkin jadi risiko perdarahan, risiko prematuritas, dan lain sebagainya,” terang dr. Nisa. Selain itu, gangguan pada penyembuhan jaringan juga dapat memengaruhi kondisi plasenta di kehamilan berikutnya.
Jarak kehamilan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik ibu, tetapi juga memberikan dampak psikologis dan sosial. Menurut dr. Nisa, mengasuh dua balita sekaligus dapat menjadi tekanan besar bagi orangtua, baik dari segi tenaga, emosi, maupun ekonomi. “Tapi kalau kita gabungkan dengan psikolog, saya pernah membaca research juga, tidak ideal untuk memiliki dua balita dalam satu rumah. Jadi kita bicara seperti itu berarti lima tahun,” tutur dr. Nisa. Temuan tersebut menekankan, bahwa selain jarak minimal dua tahun untuk pemulihan fisik, keluarga juga perlu mempertimbangkan kondisi emosional dan kesiapan lingkungan untuk menyambut anak berikutnya.
Sementara itu, bagi ibu yang ingin melahirkan normal setelah sebelumnya menjalani operasi caesar, jarak kelahiran memiliki peran penting dalam keamanan proses persalinan. “Nah kalau dulunya lahir caesar terus dia pengin lahir normal. Ini namanya trial of labor after cesarean atau vaginal birth after cesarean. Di mana kemungkinan berhasilnya itu sebenarnya tinggi, 70 hingga 80 persen,” jelas dr. Nisa. Meskipun angka persentase keberhasilannya tinggi, tetap diperlukan jarak persalinan yang cukup. “Dengan salah satu syaratnya adalah inter delivery time. Ada jurnal yang bilang 18 bulan, ada yang dua tahun. Tapi kalau bisa dua tahun lebih baik,” kata dr. Nisa. Dengan jarak tersebut, jaringan rahim memiliki kesempatan untuk pulih optimal sehingga risiko robekan saat persalinan dapat diminimalkan.
Pada akhirnya, jarak kehamilan yang ideal merupakan bentuk perlindungan bagi ibu dan bayi. Memberi tubuh waktu untuk pulih tidak hanya mengurangi risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya, tetapi juga membantu ibu menata kembali energi, emosi, dan kondisi mentalnya. “Jadi, itu sih jarak yang ideal yang kita rekomendasikan. Untuk menghindarkan komplikasi juga. Jadi tunggu siap dulu minimal dua tahun,” tutup dr. Nisa.

