Harga Minyak Dunia Menurun Menjadi 2,5 Persen Pekan Lalu

0
31

Suratkabarnasional.com – Harga minyak dunia merosot lebih dari 2,5 Persen sepanjang pekan ketiga Februari. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran The Fed akan makin hawkish demi menekan inflasi Amerika Serikat (AS). Jika kebijakan bank sentral AS tersebut makin ketat, Maka sudah bisa dipastikan permintaan bahan bakar bakal tertekan.

Mengutip Reuters, Senin (20/2/2023), Minyak mentah berjangka Brent turun 96 sen atau 1,13 persen menjadi US$84,18 per barel pada Jumat lalu. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 97 sen atau 1,24 persen menjadi US$77,52 per barel. Penurunan harga minyak ini didukung oleh sejumlah data ekonomi AS, Misalnya indeks harga produsen AS (PPI) yang naik 0,7 persen pada Januari, Setelah menurun 0,2 persen pada Desember. Kemudian, Menurut survei reuters, Klaim pengangguran juga tiba-tiba menurun menjadi 194 ribu, Dibandingkan dengan perkiraan 200 ribu orang.

“Data AS yang kuat mendukung kekhawatiran atas kenaikan suku bunga dan mendorong kenaikan imbal hasil treasury AS yang membebani harga minyak dan komoditas lainnya,” Kata Kazuhiko Saito, Kepala Analis di Fujitomi Securities Co Ltd. Sedangkan, Seorang Analis di CMC Markets Tina Teng mengatakan stok minyak mentah AS naik ke level tertinggi 17 bulan. Ini menunjukkan bahwa permintaan melemah yang mendorong harga ikut turun. “Harga minyak mentah juga lebih rendah karena perdagangan risk-off menyusul aksi jual di Wall Street, Menyusul data PPI dan dolar AS yang kuat,” Kata Teng.

Harga minyak naik-turun selama beberapa minggu terakhir disebabkan oleh beberapa hal, Mulai dari kekhawatiran resesi melanda AS di tengah kenaikan tingkat inflasi, Serta harapan untuk kenaikan permintaan minyak di China sebagai importir utama dunia. Sebelumnya, Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan kesepakatan OPEC + Saat ini untuk memangkas target produksi minyak sebesar dua juta barel per hari akan dilakukan sampai akhir tahun. Ia menambahkan akan tetap mengantisipasi jika ada peningkatan permintaan dari China.