Sebelum Islam Ahlus Sunnah, Aliran Syiah Lebih Dahulu Masuk ke Nusantara

0
46
Suratkabarnasional.com – Sebelum Islam Ahlus-Sunnah wal Jama’ah atau Suni masuk ke Indonesia, aliran Syiah sudah terlebih dahulu masuk ke Asia Tenggara, termasuk Nusantara. Menurut Teori Persia, agama Islam masuk ke Indonesia pada rentang waktu abad ke-7 hingga ke-13. Adapun yang membawa Islam adalah para pedagang dari Persia. Dalam buku berjudul “Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara” karya Moeflich Hasbullah disebutkan berdasarkan tempat, kalangan sejarawan membagi masuknya Agama Islam ke Indonesia dalam lima teori yakni Teori Arab, China, Persia, India, dan Turki. Ini kali kita membahas Teori Persia.
eori Persia juga merujuk pada sekian bukti-bukti sejarah adanya pengaruh Persia di Nusantara pada abad ke-11. Bukti-bukti teori Persia kebanyakan mengacu kepada pengaruh bahasa yang kemudian diteorikan bahwa Islam datang ke Nusantara berasal dari Persia. Teori ini didukung oleh sejarawan seperti Prof Hoeseom Djajadiningrat dan Prof Umar Amir Husen. Islam masuk ke Nusantara melalui Sumatera. Posisi Pulau Sumatera sangat dekat dengan Selat Malaka , yang merupakan pusat perdagangan serta bisnis pada saat itu. Sejak dulu, Selat Malaka telah dipenuhi oleh pedagang asing dari segala penjuru dunia, salah satunya adalah pedagang dari wilayah Timur Tengah seperti Persia. Pedagang dari Persia inilah, yang selama berdagang juga sembari melakukan penyebaran agama Islam di Nusantara. Salah satu bukti Teori Persia yang menjadi kelebihannya adalah adanya perayaan 10 Muharam di Bengkulu dan Sumatera Barat yang dikenal sebagai Tradisi Tabot.
Dalam buku berjudul “Tradisi Tabot pada Bulan Muharram di Bengkulu: Paradigma Dekonstruksi” karya Endang Rochmiatun disebutkan beberapa literatur menuliskan bahwa upacara Tabot merupakan acara mengenang gugurnya Imam Husein bin Ali bin Abu Thalib , cucu Nabi Muhammad SAW ketika dibunuh oleh tentara Yazid bin Muawiyah di Padang Karbala, Irak. Secara historis, tradisi Tabot erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan agama Islam, khususnya Islam Syi’ah di Bengkulu. Bukti lainnya adalah dalam beberapa buku yang memuat kosa kata Persia, yang diserap ke dalam bahasa Melayu. Azyumardi Azra, seperti dikutip Moeflich Hasbullah menyebut itu sebagai pengaruh kitab Aja’ib Al-Hind. Kitab ini adalah salah satu kitab Timur Tengah paling awal yang berbahasa Persia dan terdapat pengaruhnya di Nusantara. Kitab ini ditulis oleh Buzurg bin Shariyar Al-Ramhurmuzi sekitar tahun 390/1000. Dalam kitab ini, menurut Azra, diceritakan bahwa di Kerajaan Sriwijaya ada kebiasaan duduk “bersila” saat menghadap raja, kebiasaan yang juga diwajibkan pada penduduk Muslim lokal. Kata “barsila” disebut-sebut dalam kitab Aja’ib Al-Hind yang kemudian menjadi “bersila” dalam bahasa Melayu. Ini menunjukkan adanya pengaruh Islam Persia di Nusantara. Bahwa pada rakyat kerajaan Sriwijaya sudah ada kewajiban duduk “barsila” menunjukkan sudah adanya orang yang menjadi Muslim. Informasi ini relevan dengan Teori Arab yang mengatakan bahwa Islam datang ke Nusantara pada abad ke-7/8 saat Kerajaan Sriwijaya sedang mengembangkan kekuasaannya.
Selain “barsila” yang dijelaskan Azra tersebut, ada lagi beberapa bahasa dan tradisi yang konon merupakan pengaruh Persia. “Abdas” di kalangan Masyarakat Sunda sangat populer yang artinya “wudhu.” Masyarakat Sunda merasa seolah abdas adalah mereka padahal konon adalah berasal dari bahasa Persia. Di Sumatra Barat dahulu ada larangan (tabu) bermain bola karena diasosiasikan dengan kepala Husein bin Ali bin Abi Thalib yang ditendang-tendang oleh Yazid bin Muawiyah. Bukti lain pengaruh bahasa Persia adalah pada bahasa Arab yang digunakan masyarakat Nusantara. Nurcholish Madjid sebagaimana dikutip Moeflich Hasbullah memberi contoh: “Kata-kata asal Arab dengan akhiran ta’ marbuthah yang dalam keadaan berhenti (wakaf) dibaca “h” seperti shalat-un dibaca shalah, zakatun dibaca zakah, dan lain-lain, tetapi dalam bahasa Nusantara dibaca berturut-turut shalat, zakat, dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa bahasa-bahasa Nusantara tidak dipinjam langsung dari Arab melainkan dari bahasa Persia dan bahasa Islam Asia daratan seperti bahasa Urdu, Pushto, Turki dan lain-lain” (Al-Qurtuby, 2003: 18). Selain bahasa, bukti lain adalah adanya persamaan nisan pada makam Malik al-Shalih dan makam Maulana Malik Ibrahim, yang memiliki kemiripan dengan nisan yang ada di Persia.
Nakhkoda Khalifah Sejarawan A. Hasjmy dalam bukunya yang berjudul “Syi’ah dan Ahlussunnah” mengatakan pada tahun 800 M, sebuah kapal dagang berlabuh di Bandar Perlak. “Armada dakwah” itu mengangkut 100 saudagar muslim Arab Quraisy, Persia, dan India, yang dipimpin Nakhoda Khalifah. Mereka membarter kain, minyak atar, dan perhiasan dengan rempah-rempah. “Rombongan misi Islam yang dipimpin Nakhoda Khalifah semuanya orang-orang Syiah,” tulis Hasjmy. Sejak itu, mereka kerap datang ke Bandar Perlak sehingga banyak orang Perlak masuk Islam, termasuk Meurah (Maharaja) Perlak dan keluarganya. Pada 840 M diproklamasikan Kerajaan Perlak yang beribu kota Bandar Khalifah –sebagai penghargaan kepada Nakhoda Khalifah– saat ini letaknya sekira enam kilometer dari kota Peureulak. Rajanya Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. “Kerajaan Islam yang pertama berdiri di Indonesia yaitu Perlak, boleh dinamakan Daulah Syi’iyah (Kerajaan Syi’ah)… sehingga pahamnya menyelusupi dalam tubuh masyarakat Islam yang baru tumbuh itu,” kata Hasjmy.
Sejarawan Slamet Muljana dalam bukunya berjudul “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negaranegara Islam di Nusantara” juga mengungkap Islam yang sampai di Asia Tenggara paling dahulu ialah aliran Syiah. Hanya saja, Slamet Muljana menyebut bahwa Syiah tak hanya dibawa pedagang Persia. “Selain Persia, aliran Syiah dibawa oleh para pedagang Gujarat, dan Arab ke pantai timur Sumatera, terutama ke negara Perlak dan negara Pasai, dan mendapat dukungan dinasti Fathimiah di Mesir,” katanya. Jadi, meski memiliki beberapa kelebihan, namun ada sebagian ahli yang masih meragukan bukti-bukti terkait masuknya Islam dari Persia. Hal ini karena bukti-bukti yang ada masih diragukan dan dirasa kurang kuat. Terlebih lagi, Persia bukanlah wilayah pusat agama Islam. Ditambah lagi, pedagang yang berasal dari Persia jumlahnya tidak seberapa. Pedagang Persia yang bertransaksi di Indonesia saat itu masih kalah jumlahnya dengan pedagang Arab, China, dan India. Tentang tradisi Tabot, Endang Rochmiatun mengatakan tradisi ini dibawa oleh para pekerja Islam Syi’ah dari Madras dan Bengali, India bagian selatan, yang dibawa oleh tentara Inggris untuk membangun Benteng Marlborough (1713—1719).