Warga Jambi Keluhkan Harga Pinang Yang Turun Drastis Hingga Rp5000

0
33

Suratkabarnasional.com – Warga Desa Lagan Tengah, Kecamatan Geragai, Tanjung Jabung Timur, Jambi, mengeluhkan harga pinang yang turun drastis, bahkan hingga tinggal Rp5.000 per kilogram.

Mereka sebenarnya ingin menyampaikan keluhan ini kepada Presiden Joko Widodo saat meninjau jalan di Kecamatan Geragai dan Mendahara. Namun sayang, Jokowi batal berkunjung ke lokasi tersebut, sehingga keinginan itu tidak terwujud.

“Kami berharap Pak Jokowi memperbaiki jalan, dan bisa menaikkan harga pinang, kelapa, sawit, dan sebagainya. Sudah setahun lebih harga pinang anjlok,” kata warga bernama Tia, Selasa (16/5).

Tono (38), pengelola dan penjual pinang lokal di Desa Lagan Tengah mengatakan pinang harganya memang anjlok hingga Rp 5.000. Tapi, jika kualitasnya turun, harganya bisa lebih murah dari itu.

“Kurang paham juga penyebabnya. Biasanya pinang lokal dikirim dari sini. Orang Jambi yang beli,” tuturnya, Selasa (16/5).

Padahal pada 2021, harga pinang lokal di daerah ini mencapai hingga Rp29 ribu per kilogram. Tapi kemudian, harga tersebut turun selama satu tahun belakangan ini.

“Dulu saat harga pinang mahal, ada saja yang maling. Makanya, pasang CCTV. Kalau sekarang, mana ada yang maling,” tuturnya.

Komoditi pinang diolah Tono, merupakan hasil panen di kebunnya sendiri yang luasnya berkisar lima hektare.

“Sedangkan yang sudah berbuah mencapai 3 hektare. Pinang ini panennya dua minggu sekali, kalau 3 hektare dapat 200 karung,” tuturnya.

Ia pun menyampaikan warga Desa Lagan Tengah, banyak yang mengelola pinang. Tradisi ekonomi ini sudah ada sejak 1980-an.

“Awalnya, 1980-an sudah ada pinang. Dulu tentu lebih murah. Kalau perkebunan sawit belum lama masuk ke sini. Sekitar tahun 2009-an,” ujarnya.

Namun, pengiriman komoditi pinang di daerah tersebut, tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai. Jalan sepanjang 17 kilometer yang terbentang di Kecamatan Geragai dan Mendahara, mengalami kerusakan parah.

Di jalan yang batal ditinjau itu terdapat beberapa lubang yang cukup dalam sehingga berisiko merusak kendaraan yang lewat.

Berdasarkan pantauan, saat tim jurnalis berada di perjalanan, terdapat truk bermuatan kelapa sawit yang mengalami patah as roda. Bahkan, jalan rusak ini berpotensi membuat kendaraan terbalik.

“Kalau yang ingin diperbaiki sepanjang berkisar 9 kilogram,” kata Kepala Kecamatan Geragai, Iduar Aidi.

Ia mengatakan jalan tersebut mengalami rusak berat sejak akhir 2022 akibat dilalui truk bermuatan sawit dan curah hujan yang tinggi.

“Sering hujan. Kemudian awal 2023, pun hampir setiap hari hujan. Ditambah lagi panen yang sekarang ini sedang maksimal,” katanya.