Melalui Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) 2026 INSTIKI Terapkan Pertanian Smart-Ekologi Di Desa Bonyoh, Tingkatkan Efisiensi Perkebunan Alpukat

0
54

Bangli, Bali — Desa Bonyoh, Kabupaten Bangli, Bali, terus mengembangkan potensi pertanian dan perkebunan sebagai bagian dari upaya mewujudkan desa berbasis agrowisata. Desa yang merupakan binaan Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) tersebut diproyeksikan menjadi salah satu sentra pengembangan agrowisata alpukat, sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa. Desa Bonyoh yang berada di lereng tenggara Gunung Batur memiliki lahan pertanian dan perkebunan produktif seluas 321,42 hektare. Sebagian besar lahan tersebut dimanfaatkan untuk perkebunan alpukat yang menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat. Untuk mendukung aktivitas pertanian, pemerintah pusat sebelumnya telah memberikan bantuan pembangunan sistem penyediaan air dengan mengangkat air dari sumber mata air di dasar jurang menuju tempat penampungan di atas tebing. Infrastruktur tersebut dibangun untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan air bagi kebutuhan irigasi pertanian dan perkebunan. Namun, pemanfaatan air tersebut masih dinilai belum efisien. Kepala Desa Bonyoh, I Wayan Denia (53), mengatakan bahwa keberadaan infrastruktur air sangat membantu masyarakat, tetapi pengelolaannya masih perlu dioptimalkan agar pemanfaatan air untuk perkebunan menjadi lebih efektif dan efisien.

Salah satu kelompok tani yang menghadapi persoalan tersebut adalah Kelompok Tani Subak Abian Taru Agung yang diketuai I Kadek Kharisma (49). Menurut Kharisma, persoalan utama yang dihadapi kelompok tani adalah sistem irigasi yang belum efisien serta belum tersedianya penerangan yang memadai di area perkebunan alpukat. “Penggunaan air untuk penyiraman masih perlu dibuat lebih efisien. Selain itu, penerangan di area perkebunan juga masih menjadi kebutuhan bagi petani,” ujar Kharisma. Menjawab persoalan tersebut, INSTIKI bersama Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) mendampingi Kelompok Tani Subak Abian Taru Agung melalui penerapan sistem pertanian smart-ekologi. Teknologi tersebut dirancang untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan air sekaligus mendukung pengelolaan perkebunan alpukat yang lebih modern dan berkelanjutan.

Di bawah koordinasi I Gede Adnyana sebagai ketua tim pelaksana kegiatan Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Tahun 2026, tim INSTIKI memasang sistem smart-ekologi untuk mengontrol pemanfaatan air dalam penyiraman kebun alpukat. Implementasi awal dilakukan pada lahan seluas 10 are dengan jumlah 50 pohon alpukat. Sistem tersebut memungkinkan pengelolaan penyiraman dilakukan secara lebih terukur sehingga penggunaan air dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Dengan demikian, air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif dan tidak terbuang secara berlebihan. Selain sistem irigasi, tim juga memasang lampu penerangan bertenaga surya (solar cell) di area perkebunan. Teknologi ini diharapkan dapat memberikan penerangan tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik konvensional. Ketua Tim Pelaksana INSTIKI, I Gede Adnyana (42), menjelaskan bahwa penggunaan energi surya menjadi bagian dari konsep smart-ekologi yang diterapkan dalam kegiatan tersebut. “Selain mendukung penerangan di area perkebunan, pemanfaatan energi surya juga menjadi langkah untuk mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan,” jelasnya. Penerapan sistem smart-ekologi tersebut ditargetkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air 40% dan mendorong peningkatan produktivitas kebun alpukat 30%.

Kehadiran teknologi pertanian berbasis smart-ekologi mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Bonyoh. Menurut pemerintah desa, penerapan teknologi tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam membantu petani mengatasi persoalan penyiraman dan penerangan di kawasan perkebunan alpukat. “Teknologi ini sangat membantu kelompok tani, terutama dalam mengatasi persoalan penyiraman dan penerangan di area perkebunan. Kami berharap program ini dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Desa Bonyoh,” ujar Perbekel Desa Bonyoh. Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi pertanian di Desa Bonyoh menuju sistem yang lebih efisien, produktif, dan ramah lingkungan. Pengembangan teknologi pertanian diharapkan dapat memperkuat potensi alpukat sebagai komoditas unggulan sekaligus mendukung cita-cita Desa Bonyoh menjadi kawasan agrowisata. Atas terselenggaranya program tersebut, tim pelaksana menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas dukungan program dan pendanaan melalui kontrak induk nomor 211/C3/DT.05.00/PM/2026 dan kontrak turunan 690/DST/LL8/DT.05.00/2026, 006/INSTIKI.R1.D2/PM.04/05.2026 Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses modernisasi sistem pertanian alpukat sekaligus meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat Desa Bonyoh.