Revitalisasi Infrastruktur Hutan Raya Selat, PDB Undiksha dan INSTIKI Hadirkan Rest Point dan Pencahayaan untuk Dukung Pariwisata

0
58

Buleleng, Bali — Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, terus mengembangkan potensi alam dan lingkungan sebagai bagian dari upaya membangun kawasan wisata berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu potensi unggulan yang dimiliki desa tersebut adalah keberadaan Hutan Raya Desa Selat, kawasan hutan seluas kurang lebih 250 hektare yang menjadi salah satu kekuatan alam sekaligus aset penting bagi pengembangan wisata berbasis lingkungan di Kabupaten Buleleng.

Keberadaan Hutan Raya Desa Selat memiliki karakteristik yang khas. Kawasan ini dikelola oleh Kelompok Pengelola Hutan Desa (KPHD) Selat yang melibatkan masyarakat dari berbagai unsur, mulai dari tokoh adat, pemuda, hingga masyarakat yang bergerak dalam kegiatan konservasi. Selain menjalankan fungsi pelestarian lingkungan dan pemeliharaan tanaman endemik, kelompok ini juga mengembangkan potensi kawasan melalui pemeliharaan jalur tracking, budidaya tanaman bambu dan empon-empon, serta pengembangan hasil hutan bukan kayu.

Hutan Raya Desa Selat juga memiliki jalur wisata edukatif sepanjang sekitar 2,3 kilometer yang melintasi sejumlah potensi alam dan budaya, di antaranya air terjun Tukad Basak, situs sakral Mayor Metra, serta kawasan yang berpotensi dikembangkan untuk kegiatan wisata alam dan edukasi. Potensi tersebut menjadikan Hutan Raya Desa Selat sebagai salah satu kawasan yang dapat dikembangkan menjadi destinasi ekowisata dan wisata edukatif berbasis konservasi.

Namun, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dapat dikembangkan secara optimal. Salah satu persoalan yang dihadapi Kelompok Pengelola Hutan Desa Selat adalah masih terbatasnya infrastruktur pendukung aktivitas wisata di dalam kawasan hutan. Keterbatasan fasilitas untuk beristirahat serta minimnya sumber listrik dan pencahayaan menjadi kendala dalam meningkatkan kenyamanan dan pengalaman pengunjung.

Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas wisata di kawasan Hutan Raya Desa Selat belum berkembang secara maksimal. Pengunjung masih memiliki keterbatasan fasilitas pendukung ketika melakukan aktivitas di kawasan hutan, sementara pengembangan kegiatan wisata pada waktu-waktu tertentu juga belum dapat dilakukan secara optimal. Keterbatasan infrastruktur tersebut menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan daya tarik kawasan sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan.

Permasalahan tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Tahun Kedua yang dilaksanakan oleh Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) berkolaborasi dengan Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI). Program ini diketuai oleh Dr. I Wayan Sukra Warpala, S.Pd., M.Sc., dengan Kelompok Pengelola Hutan Desa Selat sebagai salah satu mitra sasaran.

Melalui program tersebut, tim pelaksana melakukan intervensi untuk mendukung pengembangan aktivitas pariwisata di Hutan Raya Desa Selat melalui penyediaan satu unit gazebo atau rest point serta sumber listrik untuk mendukung pencahayaan kawasan. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi pengunjung untuk beristirahat sekaligus meningkatkan kenyamanan dan keamanan selama melakukan aktivitas wisata di kawasan hutan.

Pembangunan rest point menjadi bagian dari upaya menghadirkan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan kawasan wisata alam. Selain berfungsi sebagai tempat beristirahat, fasilitas tersebut juga diharapkan dapat menjadi titik pendukung bagi wisatawan untuk menikmati suasana hutan sekaligus menjadi bagian dari pengembangan pengalaman wisata yang lebih nyaman dan menarik.

Sementara itu, penyediaan sumber listrik untuk pencahayaan diharapkan dapat mendukung aktivitas wisata secara lebih optimal. Ketersediaan pencahayaan menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung keamanan dan kenyamanan pengunjung, sekaligus membuka peluang pengembangan aktivitas wisata yang lebih beragam di kawasan Hutan Raya Desa Selat.

Ketua Pelaksana Program Pemberdayaan Desa Binaan, Dr. I Wayan Sukra Warpala, S.Pd., M.Sc., menjelaskan bahwa pengembangan infrastruktur pendukung menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat potensi Hutan Raya Desa Selat sebagai kawasan wisata berbasis konservasi dan edukasi.

“Desa Selat memiliki potensi hutan yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata edukatif berbasis konservasi. Melalui penyediaan rest point dan dukungan sumber listrik untuk pencahayaan, kami berharap fasilitas ini dapat meningkatkan kenyamanan pengunjung