Mengubah Kelapa Daksina Menjadi VCO, Tim PDB Undiksha dan INSTIKI Dorong Ekonomi Sirkular di Desa Besakih

0
55

Karangasem, Bali – Desa Besakih merupakan salah satu desa di Kecamatan Rendang yang tengah menggeliat membangun masa depan berbasis kekuatan alam dan kearifan lokal. Desa ini juga merupakan binaan Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKHSA) yang diproyeksikan dalam pengembangan sentra wisata eco-religi berbasis community based tourism di kawasan Gunung Agung Desa Besakih-Bali yang sejalan dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa. Desa Besakih memiliki aktivitas keagamaan yang sangat intens, terutama di kawasan Pura Agung Besakih. Kepala Desa Besakih Bapak I Wayan Benya menyatakan bahwa  aktivitas keagamaan di Pura Agung Besakih menghasilkan potensi bahan baku berupa kelapa daksina dalam jumlah besar. Pada hari-hari keagamaan seperti Purnama dan Tilem, penggunaan kelapa daksina dapat mencapai sekitar 50–100 buah per hari. Sementara pada pelaksanaan upacara besar seperti Panca Wali Krama, jumlahnya dapat meningkat hingga 1.000–2.000 buah per hari.

Namun, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan pengolahan yang memberikan nilai tambah. Kelapa daksina yang telah digunakan umumnya masih dijual kembali tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat potensi ekonomi dari kelapa yang tersedia di kawasan Besakih belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Salah satu kelompok yang menghadapi persoalan tersebut adalah Pokdarwis Giri Wiguna yang menaungi aspek pariwisata dan kelestarian Desa Besakih khususnya di Kawasan Pura Agung Besakih. Menurut bapak Jero Mangku Tunas, kelapa daksina lungsuran hanya dijual kembali tanpa adanya proses pengolahan yang memberikan nilai tambah. “Beginilah situasi limbah kelapa daksina yang menumpuk disini. Biasanya kami jual kembali tanpa adanya pengolahan lebih lanjut” ujar Jero Mangku Tunas. Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu fokus intervensi Tim Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Undiksha bersama Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI). Tim mendorong pemanfaatan kelapa daksina melalui penerapan teknologi pengolahan Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai guna dan nilai ekonomi bahan lokal tersebut.

Dibawah koordinasi A.A. Gede Yudha Paramartha sebagai ketua tim pelaksana Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Tahun 2026, tim melaksanakan instalasi mesin pengolahan VCO untuk mendukung kegiatan pengolahan kelapa daksina oleh masyarakat. Kehadiran peralatan tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi teknologi tepat guna untuk membantu meningkatkan kapasitas dan efisiensi pengolahan di tingkat mitra. Pengadaan mesin tersebut tidak hanya diarahkan untuk menyediakan sarana produksi, tetapi juga menjadi bagian dari proses transfer teknologi kepada masyarakat. Tim memberikan pendampingan dalam penggunaan dan pengoperasian peralatan, tahapan pengolahan VCO, penerapan proses produksi yang lebih higienis, hingga pengembangan dan pengemasan produk. Pendampingan tersebut dilakukan agar teknologi yang diberikan tidak berhenti sebagai bantuan peralatan, tetapi dapat dikuasai dan dimanfaatkan secara mandiri oleh mitra. Dengan tersedianya sarana produksi di tingkat masyarakat, kelapa daksina yang sebelumnya hanya dijual kembali dapat diarahkan untuk masuk ke dalam proses pengolahan dan menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Ketua tim pelaksana, A.A. Gede Yudha Paramartha menjelaskan bahwa penerapan teknologi pengolahan VCO merupakan langkah awal untuk mengembangkan potensi kelapa daksina menjadi produk yang lebih bernilai. “Penerapan teknologi VCO ini tidak hanya diarahkan untuk mengurangi tumpukan kelapa daksina yang belum dimanfaatkan, tetapi juga untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah. VCO yang dihasilkan nantinya dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan seperti minyak pasupati, minyak urut herbal, lilin aromaterapi, dan produk wellness yang memiliki keterkaitan dengan karakter wisata religi di Desa Besakih,” jelasnya.

Kehadiran teknologi VCO mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Besakih. Menurut pemerintah desa, penerapan teknologi tersebut menjadi salah satu Langkah penting dalam membantu pelestarian lingkungan di Kawasan Pura Agung Besakih. “Teknologi ini sangat membantu kami dalam mengelola kelapa daksina yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan adanya alat dan pendampingan dari tim, kami melihat ada peluang untuk mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Kami berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Besakih,” ujar Kepala Desa Besakih. Menurutnya, pemanfaatan kelapa daksina menjadi VCO sejalan dengan pengembangan wisata eco-religi di Desa Besakih. Produk olahan tersebut dapat dikembangkan sebagai produk khas desa sekaligus diperkenalkan kepada wisatawan yang berkunjung ke kawasan Pura Agung Besakih dan Gunung Agung.

Bagi Pokdarwis Giri Wiguna, keberadaan sarana pengolahan VCO membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam rantai pariwisata, mulai dari pemanfaatan bahan baku, pengolahan, hingga pengembangan produk lokal. Melalui pendekatan community based tourism, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi dari potensi lokal. Atas terselenggaranya program tersebut, tim pelaksana menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas dukungan program dan pendanaan melalui nomor kontrak induk 182/C3/DT.05.00/PM/2026 serta nomor kontrak turunan 279/UN48.16/PM.01.01/2026. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal dan pengembangan produk berbasis budaya dan religi. Dengan kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat, kelapa daksina diharapkan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung penguatan ekonomi masyarakat dan wisata eco-religi di Desa Besakih.