Undiksha dan INSTIKI Perkuat Tani-Ternak dan Kerajinan Bambu Berbasis Teknologi di Desa Sidetapa melalui Program Pemberdayaan Wilayah Tahun 2026

0
59

SINGARAJA – Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, merupakan salah satu desa Bali Aga yang memiliki potensi besar pada sektor pertanian, peternakan, kerajinan bambu, serta wisata budaya. Namun, potensi tersebut selama ini masih menghadapi berbagai kendala, terutama rendahnya efisiensi produksi, keterbatasan penguasaan teknologi, pengelolaan limbah ternak yang belum optimal, manajemen usaha yang masih sederhana, serta akses pemasaran yang belum berkembang secara maksimal. Kondisi tersebut menyebabkan nilai tambah produk lokal dan pendapatan masyarakat belum optimal. Permasalahan dan potensi Desa Sidetapa tersebut menjadi dasar pengembangan Program Pemberdayaan Wilayah (PW) yang dilaksanakan secara bertahap selama tiga tahun.

Pada Tahun III, Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA) sebagai perguruan tinggi pelaksana utama berkolaborasi dengan Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) dalam program bertajuk “Pengembangan Sentra Kerajinan Bambu dan Tani-Ternak Multilayer Berbasis IoT dalam Mendukung Agrowisata Bali Aga di Desa Sidetapa-Bali.” Program ini diketuai oleh Dr. Ida Bagus Gede Surya Abadi, S.E., M.Pd., dengan anggota tim dari UNDIKSHA, yaitu Rachmadhani, S.Si., M.Si. dan Dr. Gede Widayana, S.T., M.T., serta dari INSTIKI, Dr. Ida Bagus Gede Sarasvananda, S.Kom., M.Cs. Program dilaksanakan berdasarkan Kontrak Nomor 315/UN48.16/PM.01.01/2026 tanggal 14 April 2026.

Dua kelompok masyarakat menjadi mitra utama dalam pelaksanaan program ini, yaitu Kelompok Tani-Ternak Mekar Sari di Banjar Dinas Dajan Pura dan Kelompok Bamboo Corner Handycraft di Banjar Dinas Bantas, Desa Sidetapa. Pada sektor tani-ternak, kegiatan Tahun III diarahkan pada penguatan produksi ayam petelur, pengolahan hasil ternak, pemanfaatan limbah, produksi pakan fermentasi, serta penerapan teknologi dan manajemen usaha. Salah satu sarana yang telah diinstalasi adalah kandang ayam petelur bertingkat dua dengan delapan petak kandang, dua unit mesin penetas telur berkapasitas sekitar 100–120 butir per unit, serta mesin pencabut bulu ayam untuk mendukung efisiensi penanganan hasil ternak.

Selain itu, kelompok tani-ternak juga didampingi dalam pengembangan sistem pengolahan limbah berbasis ECOBIOFAS serta penguatan rumah kompos dan produksi pakan fermentasi. Program tersebut merupakan kelanjutan dari capaian tahun-tahun sebelumnya, seperti pembangunan kandang koloni, reaktor biogas, rumah kompos, dan penerapan teknologi pertanian berbasis IoT. Pada Tahun III, fokus kegiatan diarahkan untuk mengoptimalkan seluruh sarana tersebut agar dapat dioperasikan secara lebih terintegrasi dan mandiri oleh masyarakat.

Penanggung jawab Kelompok Tani-Ternak Mekar Sari, Putu Erwin Sukmadayani, menyampaikan bahwa pendampingan yang diberikan telah membantu kelompok dalam meningkatkan kesiapan produksi dan pemanfaatan teknologi. “Bantuan sarana dan pendampingan dari tim UNDIKSHA dan INSTIKI sangat membantu kelompok kami. Sekarang kami memiliki fasilitas yang lebih baik untuk pengembangan ayam petelur dan pembibitan, sekaligus mulai diarahkan untuk mengelola limbah ternak menjadi produk yang lebih bermanfaat. Harapan kami, teknologi yang diberikan dapat terus dikembangkan secara mandiri oleh kelompok,” ujarnya.

Sementara itu, pada sektor kerajinan bambu, Kelompok Bamboo Corner Handycraft mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan efisiensi produksi, mutu bahan baku, diversifikasi produk, dan pengembangan pemasaran. Program Tahun III mencakup penerapan teknologi pengawetan bambu Vertical Soak Diffusion (VSD), pengembangan desain produk, produksi briket biomassa dari limbah bambu, penguatan galeri produk, serta pengembangan konsep wisata edukatif melalui Bamboo Experience Workshop dan Bamboo Production Hub.

Penanggung jawab Kelompok Bamboo Corner Handycraft, Putu Dendi Saputra, mengungkapkan bahwa program pemberdayaan selama tiga tahun telah memberikan perubahan terhadap proses produksi dan pengembangan usaha kelompok. “Sebelumnya kami masih banyak bekerja dengan cara manual dan produk yang dihasilkan juga masih terbatas. Melalui pendampingan ini, kami mendapatkan teknologi dan pengetahuan baru, mulai dari pengolahan bahan baku, pengembangan desain, sampai pemasaran. Kami berharap kerajinan bambu Sidetapa dapat semakin dikenal dan menjadi bagian dari daya tarik wisata desa,” katanya.

Ketua pelaksana program, Dr. Ida Bagus Gede Surya Abadi, S.E., M.Pd., menjelaskan bahwa Tahun III merupakan tahap konsolidasi dari program pemberdayaan yang telah dilaksanakan sejak tahun sebelumnya. Fokus utama bukan hanya menyediakan teknologi, tetapi memastikan masyarakat mampu mengoperasikan, mengembangkan, dan memperoleh manfaat ekonomi dari teknologi tersebut.

“Pada tahap ini kami mengintegrasikan hasil yang telah dibangun pada Tahun I dan II. Penguatan dilakukan mulai dari produksi, pengolahan limbah, penerapan teknologi, manajemen usaha, pemasaran digital, hingga pengembangan wisata edukatif. Harapannya, kedua kelompok mitra tidak hanya memiliki peralatan, tetapi mampu membangun sistem usaha yang mandiri dan berkelanjutan,” jelasnya.

Hingga tahap laporan kemajuan, pelaksanaan Program PW Desa Sidetapa Tahun III telah mencapai sekitar 80 persen. Tahapan selanjutnya akan difokuskan pada optimalisasi teknologi ECOBIOFAS dan BioGuardIoT, penguatan rumah kompos, penyempurnaan teknologi pengawetan bambu VSD, pendampingan operasional kedua kelompok mitra, penguatan diversifikasi dan pemasaran produk, serta penyelesaian pengembangan Biofarm Trail dan Bamboo Production Hub sebagai bagian dari konsep Sidetapa Eco-Culture Village.

Program ini juga memperoleh dukungan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui fasilitasi pendanaan, kebijakan, dan sinergi dengan pemerintah desa serta perangkat daerah terkait. Pemerintah Desa Sidetapa turut menyediakan fasilitas dan lokasi kegiatan, termasuk rumah kompos, jalur Biofarm Trail, dan Bamboo Production Hub.

Melalui kolaborasi antara UNDIKSHA, INSTIKI, Pemerintah Kabupaten Buleleng, Pemerintah Desa Sidetapa, serta masyarakat, Program Pemberdayaan Wilayah diharapkan mampu memperkuat ekonomi lokal sekaligus membangun ekosistem usaha yang mengintegrasikan tani-ternak, pengelolaan lingkungan, industri kreatif bambu, dan wisata edukatif berbasis kearifan lokal Bali Aga.

Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Universitas Pendidikan Ganesha, Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia, serta Pemerintah Kabupaten Buleleng atas dukungan dan sinergi dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Wilayah Tahun 2026 di Desa Sidetapa.