Pro Kontra Nama ‘Koalisi PBNU’ di Internal Pendukung Anies

0
18

suratkabarnasional.com – Muncul usul nama koalisi pendukung bakal capres dan cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar atau Cak Imin ‘Koalisi PBNU’. Usul nama ‘Koalisi PBNU’ menuai pro-kontra di dalam koalisi pendukung Anies-Cak Imin sendiri. Usul ‘Koalisi PBNU’ berasal dari Ketua DPP PKB Lukmanul Khakim, padahal nama koalisi Anies-Cak Imin saat ini Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). Lukmanul mengatakan Anies-Cak Imin memiliki komitmen kuat terhadap ‘PBNU’.

“Saya mengusulkan nama koalisi NasDem-PKB: Koalisi PBNU. Koalisi Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945,” kata Lukmanul kepada wartawan, Kamis (7/9). Lukmanul mengatakan Anies-Cak Imin memiliki komitmen kuat terhadap Pancasila hingga Undang-Undang Dasar 1945. Anies dan Cak Imin disebut sosok yang menjunjung pluralisme dan komitmen terhadap NKRI.

“Kenapa saya mengusulkan nama Koalisi PBNU, karena pasangan Anies-Gus imin (AMIN) keduanya adalah sosok pemimpin yang selama ini punya komitmen yang kuat terhadap PBNU, komitmen terhadap pancasila sebagai ideologi dan dasar negara,” ujar Lukmanul. “Komitmen terhadap kebinekaan dan pluralisme, komitmen terhadap NKRI sebagai negara kesatuan yang tidak tergantikan oleh apapun, baik yang mewacanakan khilafah maupun negara federal, juga komitmen terhadap UUD 1945 sebagai konstitusi,” sambungnya.

Lukmanul menyebut jika disetujui nama koalisi tersebut akan menepis anggapan Anies yang seolah-olah pro-khilafah. Menurutnya nama koalisi itu akan menjawab keraguan dari masyarakat.

“Nah jika disetujui nama koalisi Anies-Gus Imin nantinya Koalisi PBNU, tentu ini jawaban bagi yang selama ini sangsi, apalagi belakangan muncul black campaign yang menyerang Mas Anies seolah pro-khilafah,” katanya. Ia berharap nama koalisi itu akan disetujui oleh banyak pihak. Menurutnya Anies dan Cak Imin adalah tokoh yang akan mengawal kepentingan nasional, bukan kelompok semata.

“Harapan saya tentu jika disetujui sekaligus agar masyarakat jangan gampang termakan provokasi dengan isu-isu yang tidak benar, Anies-Gus Imin tokoh nasional sekaligus pemimpin yang komit terhadap NKRI dan siap menjaga dan mengawal kepentingan nasional (national interest),” pungkasnya.

Usul Ditolak Elite NasDem
Usul Lukmanul Khakim soal nama koalisi Anies-Cak Imin menjadi ‘Koalisi PBNU’ mendapat penolakan dari internal koalisi. Partai NasDem tak setuju dengan usulan nama itu. “Yang pertama, PBNU kan udah memiliki organisasi sendiri. Jadi janganlah bawa-bawa nama PBNU,” kata Bendum NasDem Ahmad Sahroni kepada wartawan, Kamis (7/9). Sahroni menegaskan sikap partainya soal penamaan koalisi masih menunggu keputusan para pimpinan partai di koalisi pendukung Anies-Cak Imin.

“NasDem terkait nama koalisi tunggu para bos duduk bersama untuk menamakan tag line koalisi. Apapun usulan nama nanti tunggu para bos datang dan duduk bersama saja, baru tentukan nama tag line ke depan,” ujarnya. Sahroni sendiri menegaskan tak setuju dengan usulan penamaan koalisi itu. Dia mewanti-wanti penamaan itu berdampak pada organisasi lainnya. “Saya nggak setuju nanti akan berdampak pada organisasi lainnya,” katanya.

PBNU Nilai Tak Etis
Tak hanya itu, usul nama ‘Koalisi PBNU’ juga mendapat respons kurang sedap dari luar koalisi. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur menilai usulan nama itu mirip dengan ormas Islam sehingga kurang etis.

“Saya kira sebaiknya membuat singkatan yang lebih familiar dan berarti positif, mudah diingat semua orang. Semisal ‘Anies Muhaimin’ menjadi ‘Amin’ yang berarti mohon kabulkan doa,” kata Gus Fahrur kepada wartawan, Kamis (7/9). Menurutnya, nama itu sebaiknya tidak digunakan agar tidak menimbulkan polemik. Dia mengajak berbagai pihak saling menghargai. “Agar tidak menimbulkan polemik baru dengan PBNU. Mari saling menghargai dan berkampanye secara santun,” katanya.

Di samping itu, Gus Fahrur menilai nama yang serupa dengan PBNU kurang digunakan untuk kepentingan kampanye. “Penggunaan nama ormas Islam terbesar di Indonesia untuk kepentingan kampanye itu kurang etis dan bisa menimbulkan protes atau kemarahan sebagian masyarakat nahdliyin,” ujarnya. Gus Fahrur mengatakan PKB juga tidak akan suka jika nama partainya itu dipelesetkan. Maka dari itu dia meminta menggunakan nama yang tidak mirip-mirip.

“Sebagaimana warga PKB pasti merasa tidak suka, apabila ada pihak yang memakai PKB untuk singkatan plesetan lain misalnya Penggemar Kangkung dan Bayam. Sebaiknya kita lebih gentle dan percaya diri dengan merek sendiri, kan ada larangan penggunaan merek yang mirip, he-he-he…,” imbuhnya.