Fenomena Serbuan Motor Listrik China ke Indonesia

0
46

Suratkabarnasional.com – Pameran Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) yang diselenggarakan pada 22-31 Juli 2022 di JIExpo, Kemayoran, merupakan salah satu ajang pameran terbesar kendaraan listrik di Indonesia. Lewat pameran ini, berbagai produk kendaraan listrik unggulan meluncur. Meski kebanyakan masih berasal dari China, lalu di-rebranding menjadi merek lokal. Fenomena ini begitu terasa dari berbagai motor listrik yang sporadis meluncur di Indonesia, umumnya punya kesamaan, mulai desain, teknologi, atau asal pabrik yang serupa.

Semisal merek Davigo yang mengenalkan motor listrik bergaya klasik, Davigo Forza. Sementara itu, Mobil Anak Bangsa (MAB) turut meluncurkan sub brand motor listrik bernama Electro, dengan modelnya Electro EL02. Menariknya, desain antara Davigo Forza dan Electro EL02 terlihat identik. Keduanya memiliki desain retro klasik yang mirip Vespa Primavera dengan dimensi lebih mungil. Ketika ditanya mengenai kemiripan ini, Glora Slucky salah satu pendiri dan Kepala Pemasaran PT Davigo Artha Luas mengatakan, meski mirip tapi keduanya berbeda, yang mana perbedaannya yaitu di vendor asal.

“Semua motor China hampir sama bentuknya. Tapi brand-nya di sana itu apa, sumbernya apa itu beda-beda. Ada yang industri rumahan,” ujar Lucky di ajang PEVS 2022 (24/7/2022). Davigo merupakan merek alih ulang dari jenama asal China yaitu Luyuan. Luyuan diklaim sebagai salah satu merek motor listrik yang kompetitif karena punya dinamo alias motor listrik yang tahan panas. “Kalau Luyuan terkenal, sertifikasi internasionalnya sudah terkenal. Beda. Banyak di showroom-showroom, sepintas sama tapi kalau diperhatikan lain, oh besaran sana, ada bedanya sedikit, tetap ada bedanya,” kata Lucky. Untuk diketahui identitas Luyuan memang tidak dihilangkan 100 persen oleh Davigo. Hal itu dapat dilihat dari embos merek asal China tersebut di tabung suspensi depan.

Tren sepeda motor listrik memang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan kapasitas baterai dan jangkauan jarak yang bertambah, motor listrik mulai banyak dipilih oleh masyarakat perkotaan. Populasi motor listrik ini mulai terlihat dari penggunaan konsumen retail, hingga penggunaan komersial seperti ojek online ataupun jasa kurir. Namun, memang belum ada lembaga yang menghitung secara menyeluruh, berapa banyak jumlah penjualan motor listrik nasional. Hari Budianto, Sekretaris Jenderal AISI, mengatakan, penjualan motor listrik saat ini sudah mencapai belasan ribu ribu unit per tahun.

“Sampai akhir tahun lalu itu populasi 12.000 unit. Sampai Juni kemarin kira-kira 19.000 unit, artinya per bulan baru nambah 1.000 unit. Tetapi memang harus dilihat sebagai perkembangan yang menarik, karena sudah mulai kelihatan, 1.000 unit per bulan kan lumayan,” ujar Hari, kepada Kompas.com (25/7/2022). “Sedangkan market kita kan 5 juta unit, 87 persennya matik. Jadi sebenarnya kalau ngomong dibandingin, masih belum signifikan,” kata dia. Meski begitu, ia mengakui perkembangan motor listrik tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena teknologi produsen global sebetulnya sudah mengarah ke kendaraan listrik seluruhnya. “Memang tahapan ini masih berjalan. Kita sih welcome, enggak ada keganggu atau segala macam. Karena semua kan hanya masalah pasar. Lama-kelamaan kalau pasar bisa adopt, tentunya semua juga akan masuk juga ke bisnis yang sama. Semuanya hanya masalah bersiap saja,” ucap Hari.

Sejatinya, serbuan motor China (mocin) bukan baru kali ini terjadi. Sebelumnya, setelah krisis moneter yang terjadi di Indonesia tahun 1997-1998, pasar motor Indonesia sempat diramaikan merek-merek asal China. Waktu awal tahun 2000-an, mungkin ada puluhan jenama asal Negeri Tirai Bambu yang coba cari peruntungan di Indonesia.

Kala itu, kebanyakan mocin mengandalkan mesin berkapasitas 100 cc. Mesin itu memiliki basis yang sama dengan mesin C100 miliki Honda yang tersemat pada Astrea Grand atau Supra X keluaran awal. Pabrikan Jepang yang sudah eksis lebih dulu sempat dibuat kalang kabut. Sebab, mocin ditawarkan dengan harga jual yang sangat terjangkau. Namun, dari sekian banyak merek mocin yang sempat hadir, mungkin saat ini hanya tersisa beberapa. Itu pun dengan angka penjualan yang sedikit, dan lebih terfokus untuk keperluan niaga atau motor roda tiga. Berdasarkan pantauan kami, nama-nama seperti Viar, Tossa, dan Kaisar masih menyediakan layanan 3S (sales, servis, dan spare part). Adapun merek Sanex, Jialing, dan Zhongsen, sudah lama tak terdengar dan menghilang begitu saja.

Pengamat otomotif dan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan, fenomena serbuan motor listrik asal China berbeda kondisinya dengan masa lalu. “Kalau sekarang kelihatannya beda dengan dulu, kalau dulu kan yang masuk itu pedagang-pedagang. Kalau sekarang ini sebenarnya negara yang sudah masuk,” ujar Martinus, (25/7/2022). Menurutnya, masifnya kehadiran motor listrik China tidak lain karena Negeri Tirai Bambu jadi yang paling siap dengan teknologi listrik.

Martinus menambahkan, saat ini komponen kendaraan listrik mayoritas berasal dari China. Khususnya baterai, komponen utama dari kendaraan listrik.Situasinya sudah berbeda sekarang. Dulu China itu kan baru mau tumbuh. Jadi kebijakan reformasi ekonomi yang dibikin Deng Xiaoping (1978-1989) baru mau jalan,” ucap Martinus. “Kalau sekarang (China) sudah jadi banget. Kita lihat mobil-mobil bikinan China sudah bagus desainnya, secara engineering juga hebat. Bahkan BYD sudah mengalahkan Tesla untuk pasar di China. Jadi petanya sudah berubah,” kata dia.

Berkaca dari kejadian masa lalu, sudah sepatutnya konsumen menjadi lebih jeli dalam memilih suatu produk. Pengamat otomotif Bebin Djuana, mengatakan, serbuan motor listrik asal China yang terjadi saat ini mungkin kejadian yang serupa tapi tak sama. Serupa karena memang mayoritas motor listrik berasal dari China. Namun, tidak sama kondisinya karena motor listrik dan motor konvensional memiliki komponen yang berbeda. Dulu mocin yang masuk merupakan motor konvensional dengan mesin bakar internal, yang memiliki banyak komponen. Sementara kini, motor listrik berdatangan dengan komponen yang jauh lebih sedikit.

“Jadi saya katakan serupa tapi tak sama, bisa saja bahwa mungkin ada beberapa bagian dari motor yang rusak. Tetapi bagian itu komponennya tidak banyak. Sehingga rasanya lebih mudah diatasi,” ucap Bebin,  (25/7/2022). “Benar yang akan dirugikan adalah konsumen, terutama konsumen yang tergiur harga murah. Seyogyanya masyarakat sudah menjadi lebih jeli, untuk tidak menerima produk yang abal-abal,” ujar dia. Lantas, bagaimana cara untuk mengetahui bahwa kualitas sebuah motor listrik bisa dipertanggungjawabkan? Bebin menyarankan agar konsumen lebih memperhatikan kualitas baterai kendaraan listrik dari spesifikasinya.

“Sekarang nilai termahal dari kendaraan listrik adalah baterai, jadi baterai yang harus digaransi. Bahasa garansinya baterai, tidak seperti kendaraan masa lalu selama 3 tahun atau 100.000 km, bukan itu. Tapi, baterai yang ada di kendaraan saya ini berapa lifecycle,” katanya.

Ia menjelaskan, misalnya baterai yang terpasang adalah digaransi hingga 1.000 cycle atau siklus. 1 kali siklus artinya waktu Anda charging dari nol ke 100 persen, seperti mengisi daya smartphone. Kalau Anda melakukan satu hari sekali, dan satu tahun 365 hari, berarti baterai kendaraan listrik tersebut bisa bertahan hingga 3 tahun. “Tetapi ketika Anda pemakaiannya sehari bisa ngecas dua kali, karena jalannya jauh, tinggal dihitung. Karena yang dihitung adalah lifecycle. Bukan satuan waktu atau jarak. Itu yang menentukan sebagai pegangan,” ucap Bebin.

Sementara itu, mengenai ketersediaan jaringan purnajual, menurut Bebin sudah tidak sepenting kendaraan konvensional. Lagi-lagi ia beralasan karena komponen kendaraan listrik yang jauh lebih sedikit dibandingkan kendaraan konvensional. “Jadi saya membayangkan ketika punya masalah, yang dicari malah seperti montir elektronik. Artinya kalau punya motor listrik enggak perlu nyari bengkel,” kata Bebin. “Memang kendaraan listrik itu nyaris dipertanyakan, apanya yang mau dipelihara? Mobil listrik saja servis di bengkel resmi paling setahun sekali. Jadi kita yang harus berubah, pemakai atau pemilik kendaraan yang berubah,” ujar dia.